‘ AKU CINTA INDONESIA ‘ , Menutup Luka Lama Bangsa.

KORANJURI.COM – (opini ) Peristiwa tragedi G30S tidak hanya menjadi sejarah kelam bagi bangsa dan negara Indonesia, namun kenangan pahit tersebut sampai sekarang tetap masih terus membekas di antara  para anak cucu korban  dalam peristiwa tersebut. Di gagasnya rekonsiliasi bagi  para korban G30S oleh pemerintah, bukanlah untuk meminta maaf, melainkan untuk menyelesaikan dan menutup kenangan lama yang pahit, agar para generasi muda bisa menatap masa depan dengan penuh harapan.

Adanya pro dan kontra dalam penyelesaian kasus G30S yang dianggap sebagai pelanggaran HAM berat, tentunya juga terus  di perdebatkan oleh banyak kalangan, begitupun ide penyelesaian dalam kasus ini. Sebagai warga negara yang peduli terhadap keberlangsungan bangsa dan negara Indonesia di masa yang akan datang, tak sedikit elemen masyarakat yang memberikan sumbangsih pemikiran bagaimana menyudahi sekaligus menutup luka lama ini.

Karena jika luka tersebut tetap terus di ungkit, maka bangsa  yang besar ini tak akan pernah berkesudahan menyelesaikanya. Di dalam  keprihatinanya yang sangat dalam, Agus Sahid, S.E,  seorang ekonom  asal Solo,  juga turut mengkhawatirkan  kondisi bangsa dan negara Indonesia saat ini. Melalui sebuah pemikiran,  Agus Sahid, S.E melahirkan gagasan ‘ AKU CINTA INDONESIA’.

Di dalam gagasan tersebut Agus Sahid menulis,

‘ Wahai bangsa Indonesia sadarlah, bahwa kemerdekaan itu melalui sebuah perjuangan yang panjang dan berat, dengan mengorbankan jutaan nyawa dan ribuan liter darah yang mengalir.  Maka dari itu isilah kemerdekaan dengan ketaqwaan, akhlak yang mulia, kerja keras, kreativitas , inovasi persatuan, kerukunan, saling tolong menolong, kejujuran dan profesionalisme yang tinggi.

Para pejabat dan  pengelola negara jalankanlah Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945,   utamanya  Pasal 33 ayat 3. Kasihan rakyat yang  sudah menderita cukup lama, ‘bak ayam yang kelaparan di lumbung padi’.  Malulah kamu semua kepada Allah,  yang telah memberi kitta Rahmat sumber daya alam  yang melimpah.  Sepantasnya kita menjadi negara yang paling kaya dan penduduk yang paling makmur di dunia.

Meski kita  telah kalah jauh dari negara tetangga, tetapi bersatulah, bekerja keraslah  wahai bangsaku, jangan mudah untuk di adu domba agar bangsa ini menjadi bangsa yang paliing kaya dan makmur di dunia.  Menjadi bangsa yang di segani di dunia.  Untuk itu,  pertahankanlah Pancasila dan UUD 1945. Jalankan secara benar dalam implementasinya.  Jangan hanya menjadi wacana  tetapi realisasi dan laksanakanlah.

Jagalah persatuan  dan kerukunan bangsa, sehingga menjadi bangsa yang kuat.  Tataplah masa depan  bangsa demi kemajuan  dan janganlah ungkit masa lalu yang tak ada gunanya, yang akan berakibat  terpecah belahnya  rasa persatuan dan kesatuan yang akan merugikan anak cucu kita kelak di kemudian hari.

Warisilah mereka  ( para anak cucu ) dengan iman, taqwa, ahklak mulia,  kemakmuran dan kemajuan. Janganlah  warisi anak cucu kita dengan harta korupsi.  Larang dan janganlah ada ruang sedikitpun bagi  faham komunisme hidup di negeri ini. Sadar dan bertobatlah  untuk menjadi baik, agar bangsa ini menjadi kuat dan NKRI tetap utuh.

Ingatlah wahai  bangsaku, perang saudara akan menjadikan bangsa ini  terpecah belah, mayat bergelimpangan dimana mana. Akan semakin menambah luka dan dendam sesama anak bangsa. Keutuhan NKRI terancam , kemelaratan dan kesengsaraanlah yang akan di dapat.

Bersatulah wahai bangsaku !!!

Tengoklah negara Yugoslavia, Syuriah yang mudah di adu domba hingga kesengsaraanlah yang mereka dapat.  Jadikanlah Negara  Indonesia bangsa yang kaya dan maju , utuh dalam menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. Sehingga menjadi bangsa yang di segani dunia ‘  tulis Agus Sahid, S.E dalam pemikiranya ‘ AKU CINTA INDONESIA”.

Oleh : Agus Sahid, S.E

 

 

Please follow and like us:
1
Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

soloraya koranjuri

FREE
VIEW