Kiamat Pitik, Tradisi Sadranan Warga Desa Di Kaki Gunung Lawu

KORANJURI.COM -Ruwah, dalam kehidupan masyarakat  jawa di kenal sebagai bulan tradisi sadranan. Sebuah tradisi dalam rangka menyambung talirasa antara yang hidup dengan orang orang yang sudah mati.

Pada bulan ini para anak cucu akan berziarah ke makam para leluhur leluhurnya, dengan tujuan mendoakan sekaligus mempererat silaturahmi tali rasa. Tali silaturahmi tidak hanya diperuntukan bagi orang  yang masih hidup, tetapi tali silaturahmi juga masih di butuhkan bagi mereka yang sudah mati dengan para anak turunya.

Di karenakan kautaman doa para anak cucu sangat di butuhkan bagi arwah para leluhur yang sudah mati.

Doa para anak cucu menjadi pengiring perjalanan roh para leluhur di alam pelenggengan , dengan harapan agar roh mereka bisa mencapai kesempurnaan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Oleh karena itu, adat tradisi ini tidak hanya di lakukan oleh masyrakat Jawa saja, tetapi hampir seluruh suku yang ada di Indonesia,  juga melakukan hal yang sama pada saat memasuki bulan ruwah. Tradisi ziarah di bulan ruwah ini tidak hanya di lakukan di desa desa, tetapi masyarakat di perkotaan juga melakukan hal yang sama. Mereka beramai ramai mengunjungi makam untuk berziarah sembari membawa  uba rampe seperti, bunga, dupa wangi dan kemenyan.

Di berbagai daerah, tradisi ini di kenal dengan banyak istilah, seperti sedekah nasi rasullan, bersih desa, bersih makam, sedekah para luhur serta istilah lainya. Tetapi di salah satu desa  di kaki Gunung Lawu, warga  menyebut tradisi sadranan dengan nama Tradisi Kiamat Pitik.

‘ Tradisi Kiamat Pitik di gelar pada saat bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa’ Kata Sutarta, tokoh masyarakat desa Babar, Anggrasmanis, Karanganyar .

Di tambahkan oleh Sutarta, bagi warga Desa Anggrasmanis  terdapat dua penanggalan jawa yang di pakai dalam menentukan Kiamat Pitik, yakni penanggalan kalender Leboge dan Asopan. Dua penanggalan dengan perhitungan jawa ini adalah penanggalan hindu, sedangkan satunya lagi penanggalan hindu buda. Keduanya di pakai sebagai pedoman bagi warga desa di lereng gunung lawu untuk  menentukan pertengahan bulan Ruwah. .

Di sebut dengan Tradisi Kiamat Pitik menurut Sutarta, karena pada malam lima belas ruwah seluruh penduduk akan menyembelih ayam, yang nantinya di pakai sebagai sesaji persembahkan kepada para leluhur mereka.

‘ Setiap kepala keluarga akan menyembelih ayam. Dalam satu keluarga, bisa menyembelih lebih dari lima ekor ayam, tergantung berapa banyak leluhur mereka yang mati ‘ Terang Sutarta

Oleh karena itu menurut Sutarta, jika seluruh keluarga di Dusun Babar menyembelih ayam pada hari itu, maka total keseluruhan ayam yang di sembelih bisa mencapai ratusan atau bahkan ribuan ekor. Dari peristiwa ini, maka penduduk desa menyebut tradisi sadranan dengan nama Tradisi Kiamat Pitik ( bencana ayam ).

‘Tradisi menyembelih ayam ini tidak hanya di lakukan oleh warga dari Dusun Babar, tetapi hampir seluruh desa di sepanjang lereng Gunung Lawu yang masih menganut tradisi Jawa  akan menyembelih ayam pada malam lima belas Ruwah dan di akhir bulan Ruwah.’ Tambah Sutarta

‘ Penduduk desa ada yang menyembelih ayam pada pagi hari, namun juga ada yang di lakukan pada siang hari. Tergantung dari perhitungan kalender apa yang mereka pakai. Karena jeda waktu perhitungan antara Laboge dan Asopan hanya beberapa jam saja’ Ujar Sutarta.

‘ Meski terdapat  jeda waktu , tetapi pelaksanaan ziarah kubur semua  akan di lakukan usai dhuhur. ‘ Tambah Sutarta

Siang itu warga desa  akan memadati tempat pemakaman umum, menghaturkan persembahan sesaji bagi para leluhur mereka. Dari pengakuan warga desa, sesaji  merupakan bukti masih adanya tali rasa silaturahmi antara anak cucu dengan para leluhur.

Tradisi ini  tidak hanya di pakai sebagai ungkapan dalam menjalin ikatan antara orang yang sudah mati dengan orang yang masih hidup, tetapi juga sebagai ungkapan permohonan wujud rasa syukur penduduk desa kepada Gusti Allah. Ziarah yang di lakukan pada malam lima belas ruwah, sekaligus menjadi ajang ngalap berkah, mohon doa restu kepada para leluhur. Agar didalam menjalani kehidupan, para anak cucu senantiasa terus di amping ampingi. ( Dijaga dalam setiap langkah kehidupanya )./ jk

Please follow and like us:
1
Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

soloraya koranjuri

FREE
VIEW