Ini Kisahnya, Kenapa Setiap Wuku Mondosia Batu Gilang Di Kaki Gunung Lawu Di Siram Dengan Banyu Badek.

KORANJURI.COM-Bertepatan dengan wuku Mondosia malam Selasa Kliwon yang jatuh pada tanggal 1 Maret 2016,  penduduk Desa Pancot , Kalisoro Kabupaten Karanganyar, menggelar perayaan adat tradisi Mondosio di sebuah punden desa yang biasa disebut punden balai pato’an atau punden Prabu Baka.  Perayaan adat yang sudah di lakukan  sejak ratusan tahun yang silam ini, sebagai upaya melestarikan tradisi kearifan lokal yang sudah ada di desa di kaki Gunung Lawu sejak ratusan tahun yang silam.

Perayaan adat tersebut  tidak hanya di gelar di Desa Pancot, tetapi juga digelar di desa lain yang bertetangga dengan Desa Pancot. Namun kemeriahan perayaan mondosia yang paling meriah dilakukan di Desa Pancot. Berbagai kesenian di gelar dalam perayaan tersebut, seperti kesenian reog, klenengan dan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Kemeriahan perayaan mondosia di Desa Pancot bukan tanpa alasan di gelar, pasalnya di desa ini sejarah awal mula di lakukanya  perayaan mondosia di kaki Gunung Lawu.

‘Selain alasan tersebut, didesa ini juga terdapat petilasan Prabu Baka dan batu gilang yang menjadi cikal bakal di gelarnya perayaan adat Mondosia’ Kata Sulardyanto, sesepuh Desa Pancot.

Dijelaskan oleh sesepuh desa, Punden Balai Pato’an yang di kenal  dengan sebutan punden Prabu Baka, pertama kali di ungkap pada masa pemerintah Gus Dur. Saat itu utusan beliau tengah mencari punden yang bernama punden Prabu Baka di sekitar lereng Gunung Lawu. Tak selang lama setelah mencari dan ditemukan, ternyata yang di maksud dengan punden Prabu Baka adalah punden balai pato’an yang ada di Desa Pancot.

‘Berawal dari kejadian tersbut, punden balai pato’an lantas di kenal juga dengan nama punden Prabu Baka.’ Terang Sular, panggilan keseharian Sulardyanto.

Di kisahkan oleh sesepuh Desa Pancot, punden balai pato’an adalah petilasan Prabu Baka. Di tempat tersebut  selain bangunan punden,  terdapat juga batu gilang yang menjadi tempat terselenggaranya upacara tradisi adat mondosia. Batu gilang tersebut pada puncak perayaan mondosia akan di siram dengan banyu badek ( air tape ) yang menandai digelarnya puncak perayaan mondosia di Desa Pancot

Tradisi mondosia berawal dari kegemaran Prabu Baka yang gemar memakan daging manusia, karena tanpa di sengaja jari kelingking mbok rondo yang bertugas menjadi juru masak Prabu Baka teriris pisau dan tercampur ke dalam makanan. Merasakan lezatnya makanan bercampur dengan daging manusia, Prabu Baka ketagihan setiap hari menggambil satu orang penduduk untuk di makan.

Sampai pada suatu ketika tibalah urutan mbok rondo yang harus mempersembahkan putri satu satunya untuk makanan Prabu Baka. Rasa sedih sesak di dalam hati mbok rondo,  setiap malam mbok rondo selalu ber doa kehadirat Tuhan, memohon agar putri satu satunya lepas dari jerat Prabu Baka.

Hingga pada suatu malam seorang pertapa yang tengah bertapa di Gunung Lawu melihat keganjilan suasana desa dari kejauhan. Desa yang dulunya ramai sekarang tampak sepi sekali di kejauhan. Penasaran dengan apa yang ia lihat, sang pertapa yang bernama Panembahan Kotjonegara lantas turun gunung melihat apa yang sesungguhnya terjadi.

Saat berada di dalam desa, Panembahan Kotjonegara bertemu dengan mbok rondo dan di ceritakan apa yang tengah terjadi di desanya, tak luput persoalan tumbal putri tercintanya  juga di ceritakan oleh mbok rondo.

Mendengar seluruh penuturan mbok rondo, Panembahan Kotjonegara lantas menyiasati tumbal putri mbok rondo di tukar dengan dirinya, namun seluruh pakaian yang ia kenakan harus tertutup. Sampai pada waktu yang sudah di janjikan, mbok rondo kemudian membawa tumbal persembahan kepada Prabu Baka. Namun alangkah terkejutnya Prabu Baka mengetahui manusia yang akan di santapnya kebal tak mempan di apa apakan.

Mengetahui bahwa manusia yang menjadi tumbal ternyata adalah seseorang yang sakti, Prabu Baka marah dan terjadilah pertempuran. Dalam pertempuran antara Prabu Baka dengan Panembahan Katjanegara, akhirnya di menangkan oleh Panembahan Katjanegara. Dengan cara di pukul dengan batu gilang yang diambil dari segara kidul, kepala Prabu Baka pecah terbelah.

‘ Batu gilang yang pernah di pakai untuk memukul kepala Prabu Baka sekarang berada di punden balai pato’an’. Tambah sesepuh Desa Pancot dalam ceritanya.

Usai mengalahkan Prabu Baka, Panembahan Kotjonegara berpesan kepada penduduk, agar setiap wuku mondosia batu gilang tersebut di siram dengan banyu badek untuk mengingatkat kepada para anak cucu , agar mereka tidak melalaikan sejarah yang pernah ada di Desa Pancot.

‘ Sejak saat itu, di setiap wuku mondosia bertepatan dengan malam Selasa Kliwon, di gelar siraman banyu badek di batu gilang punden balai pato’an. Tradisi itu yang sekarang di sebut dengan nama tradisi adat mondosia’ Pungkas sesepuh desa dalam kisahnya./jk

Please follow and like us:
1
Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

soloraya koranjuri

FREE
VIEW