Milenial Lumbung Suara Strategis Untuk Memenangkan Pemilu 2019

KORANJURI.COM-Pemilu 2019 oleh banyak pengamat di nilai sebagai langkah awal kemenangan Pemilu 2024 yang akan datang.

Kemenangan perolehan suara di Pemilu 2019, secara otomatis akan menjadi peluang bagi partai pemenang di dalam meregenerasi kepemimpinan milenial pasca dua decade reformasi 98.

Meski diakui, Pemilu serentak 2019 merupakan pemilu paling ruwet di dunia, tetapi keberhasilan melaksanakan pesta demokrasi ini akan menjadi tolok ukur pemilu selanjutnya, demikian di paparkan oleh Kusuma Putra, S.H, M.H, praktisi sosial politik asal Surakarta.

Lebih lanjut pria yang tengah menempuh study Doktor ilmu hukum di salah satu perguruan tinggi swasta di kota Semarang ini memaparkan.

Pemilu 2019 menjadi ajang pesta demokrasi yang di dominasi kaum milenial.

Hal itu didasarkan atas hasil survey oleh banyak lembaga survei yang menempatkan kaum milenial usia 17 – 35 th mendominasi tiga puluh sampai empat puluh persen DPT nasional.

Kaum milenial merupakan pemilih potensial, hanya saja kesukaan mereka pada politik sangat rendah, apalagi dalam konstelasi pesta demokrasi.

Kaum milenial lebih menyukai IT, gamer dan gaya hidup di bandingkan dengan politik.

Hal ini kerap tidak di sadari oleh partai politik, bahwa Pemilu 2024 kelak akan menjadi milik kaum milenial.

Rendahnya minat milenial pada politik menjadi tugas partai politik mengedukasi, bahwa satu suara milenial akan menentukan nasib bangsa di masa depan.

Oleh sebab itu tidaklah mengherankan jika banyak milenial enggan menggunakan suara hak pilihnya.

Tak dipungkiri dalam setiap pesta demokrasi tingkat partisipasi pemilih muda sangat rendah, apalagi di era milenial seperti sekarang ini.

Mengajak kaum milenial menjadi tugas berat para pemangku kepentingan di dalam mengedukasi pentingnya peran serta para generasi muda terhadap perkembangan bangsa dan negara Indonesia.

Jika daftar pemilih tetap hasil perbaikan tahap kedua sebanyak 192.828.520 pemilih  terdiri dari 96.271.476 pemilih laki laki, 95.401.580 pemilih perempuan, maka 60juta lebih pemilih atau sekitar 30 -40% diantaranya adalah kaum milenial.

Kondisi seperti ini tentunya menjadi catatan sendiri bagi partai politik peserta Pemilu, baik Pileg maupun Pilpres di dalam menyasar suara milenial.

Dari sekian banyak sebaran pemilih milenial di seluruh Indonesia, daerah pemilihan Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur tentunya menempati rating tertinggi di tanah air.

Di karenakan padatnya pertumbuhan penduduk di pulau Jawa, yang menempatkan tiga wilayah tersebut sebagai basis lumbung suara di tanah air.

Di Jawa Tengah sendiri jumlah seluruh DPT kota dan kabupaten sebanyak 27.430.269, sedangkan DPT di Soloraya yang terdiri 7 wilayah diantaranya, Klaten, Surakarta Kota, Boyolali, Karanganyar, Wonogiri, Sukoharjo dan Sragen sebanyak 4.475.416 DPT.

‘ Dari sekian banyak dapil di Jawa Tengah yang dianggap oleh banyak kalangan sebagai dapil neraka adalah Dapil V Jawa Tengah, Surakarta kota, Klaten, Sukoharjo dan Boyolali.’ Papar Kusuma dalam keteranganya

Pasalnya imbuh Kusuma, banyak tokoh nasional bertarung di Dapil V seperti Puan Maharani dan Aria Bima dari PDIP, Henry Indraguna dari Perindo, M. Hatta dari Partai Amanat Nasional, Eva Yuliana dari Nasdem, M.Toha dari PKB, Bambang Riyanto dari Gerindra, Endang Sri Kanti dan Agustian dari Partai Golkar, serta tokoh lainya.

Dapil V di kenal sebagai basis merah, dimana caleg DPR RI dari PDI Perjuangan di pastikan memiliki peluang besar lolos melenggang ke senayan.

Peluang lolos sebenarnya tidak hanya di miliki para caleg dari abangan, tetapi caleg partai lain juga memiliki peluang yang sama jika mampu membidik lahan putih yang banyak di isi para milenial.

Di perkirakan dari hasil survei di lapangan, tak kurang delapan ratus ribu suara milenial di Dapil V belum menentukan pilihanya, karena keengganan meraka terhadap politik.

Apalagi melihat kondisi politik tanah air, khususnya para anggota dewan yang banyak terjerat kasus korupsi, semakin membuat milenial enggan bergelut dengan politik.

‘ Dibutuhan seorang tokoh yang mampu menggaet milenial melalui ide dan gagasan ‘ Jelas Kusuma dalam wawasanya

Sebaran milenial tidak hanya di masyarakat luar, tetapi mereka lebih banyak berada di dalam komunitas anak muda yang gemar dengan gaya hidup milenial seperti otomotif, penikmat kopi, gamers, dan komunitas komunitas lainya.

Milenial menjadi bidikan partai politik untuk memenangkan pesta demokrasi, di karenakan ambang batas suara parlementary yang harus di cukupi partai peserta pemilu sebanyak 4% secara nasional, di rasa sangat berat bagi partai pendatang dan partai yang rendah hasil suaranya.

‘ oleh sebab itu jika tidak bekerja keras di Pemilu 2019, maka 2019 akan menjadi kuburan bagi partai partai politik yang gagal ‘ Pungkas Kusuma Putra, SH.M.H .

Please follow and like us:
1
Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
soloraya koranjuri

FREE
VIEW