Jutaan Warga Hadiri Haul Solo

KORANJURI.COM-Jutaan warga nahdliyin padati masjid Riyadh dan sekitarnya dalam rangka memperingat acara Hau Solo ke 107 yang jatuh pada tanggal 29-30 desember 2018.

Haul Solo di laksanakan setiap tahun bertepatan 20 – 21 Rabi’ul Akhir.

Haul atau tahunan diartikan sebagai cara mengenang sekaligus memperingati tiap tahun ulama besar Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi dan dua orang keturunanya yang makamnya berada di samping masjid Riyadh, Habib Alwi dan Habib Anis.

Habib Ali bin Muhammad Al Habsy adalah Ulama Kharismatik dari Yaman yang sangat terkenal di kalangan aswaja dan kaum Muhibbin ( sebutan para pecinta Habib dan Ulama.di Indonesia ).

Beliau sangat di idolakan dalam hal ke Imam man, ahklak, ilmu dzahir dan batinya.

Bagi warga nahdliyin, Habib Ali bin Muhammad Al Habsy dan keturunanya memiliki tempat tersendiri di hati mereka.

Di kisahkan, saat beliau menjadi Imam di Mekah, Hadratus Syech Kyai Hasyim Asy’ ari pernah berguru kepada beliau. Histori ini yang membuat warga Nahdliyin sangat menghormatinya, sekalipuan sudah tiada.

Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi lahir pada hari Jumat 24 Syawal 1259 H di Qasam, sebuah kota di negeri Hadhramaut, Yaman.

Ayahandanya Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, kedua orang tua beliau juga orang soleh yang sangat di hormati di negaranya.

Pada usia yang masih sangat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan berhasil mengkhatamkan Al-Quran.

Beliau juga menguasai ilmu dzahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasa diperlukan untuk mencapai ilmu tersebut.

Oleh karena itu Habib Ali Al-Habsyi diizinkan oleh para guru dan pendidiknya memberikan ceramah-ceramah dan pengajian di hadapan khalayak ramai, Kepandainya dalam menyampaikan pesan keagaamaan dari ilmu Dzahir dan batin, dengan cepat Habib Ali Al-Habsyi menjadi perhatian, dikagumi serta memperoleh tempat terhormat di hati setiiap umat muslim yang bertemu dengan beliau..

Oleh para ulama dan Habib di Yaman, kepemimpinan majelis majelis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan besar keagaman pada masa itu lantas di serahkan kepada beliau.

Selain itu beliau juga menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya sudah banyak dilupakan.Habib Ali juga mengumpulkan, mengarahkan dan membangkitkan semangat para siswa agar menuntut ilmu mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.

Untuk menampung para siswa dan murid muridnya kemudian dibangunlah Masjid “Riyadh” di kota Seiwun (Hadhramaut) Yaman. Sampai dengan wafatnya beliau pada hari Ahad 20 Rabiul Akhir 1333 H di Seiwun Hadhramaut.

Ilmu pengetahuan keagamaan yang beliau ajarkan tak hanya sampai di Hadhramaut Yaman, namun juga menyebar di sejumlah negara Afrika, Timur tengah, Asia termasuk di Indonesia.

Santri santrinya yang berasal dari pulau Jawa banyak yang menjadi Ulama Besar dan Kharismatik diantaranya, Habib Sholeh Tanggul- Jember, Habib Abu Bakar Bin Salim- Gresik ( Wali Kutub ), Habib Alwi Bonagung- Pasuruan, Habib Jakfar Bin Saikhin Pasuruan, dan para tokoh sentral Nahdlatyl Ulama.

Habib Ali Al-Habsyi sendiri menetap di Hadhramaut Yaman, dari perkawinannya dengan Habbah Fathimah binti Muhammmad bin Seggaf Mawla Dawilah, lahir empat orang anak, yaitu Muhammad, Ahmad, Alwy dan Lhadijah.

Jikalau Kota Solo tak bisa lepas dari Habib Ali, dikarenakan puteranya yang bernana Habib Alwy hijrah ke Indonesia dan menetap di Solo.

Selama menetap di Gurawan Solo, Habib Alwi mendirikan Masjid Ar Riyadh di Gurawan demi mengembangkan dakwah yang telah beliau pelajari dari ayahandanya.

Selain Masjid Ar – Riyadh yang di bangun tahun 1953 (1354H), dibangun pula oleh beliau Ribath / Zawiyah, semacam pesantren dan tempat pengajian Al – La Hadhramaut.

Dii tempat inilah Habib Alwy menggelar Khaul yang pertama kalinya untuk memperingati ayahandanya.

Kemudian pada tanggal 20 Robiul Awal 1373H .Habib Alwy wafat di Palembang. Atas pesan dan wasiat beliau, Habib Alwy di makamkan di Solo di serambi depan Masjid Ar-Riyadh.

Setelah beliau meninggal tongkat Estafet dakwah kemudian di gantikan oleh putranya Al Habib Anis bin Alwi bin Ali Al Habsy.

Keterangan foto: Habib Anis bin Alwi bin Ali Al Habsy

Habib Anis adalah sosok figur imam yang masyur dan terkenal ahklaknya, sifat sifat beliau juga mewarisi sifat kakek dan ayahandanya yang sangat sederhana, mempesona, penebar senyum yang menyejukan hati bagi siapa saja memandangya.

Senyuman yang sejuk seakan mampu membuat damai orang yang memandangnya.

Dikalangan para Muhibbin beliau mendapat julukan The Smilling Habib

Sosok Habib Anis bin Alwi bin Ali Al Habsy merupakan sosok imam panutan.Sosok Ulama kharismatik yang sangat di hormati dan di segani, sekaligus di sepuhkan di kalangan para Habaib dan ulama.di Indonesia.

Sifat kesederhanaanya membuat beliau jarang meninggalkan Masjid Ar- Riyadh. Setiap hari beliau lebih suka mengajar dan berceramah dengan santri santrinya di Masjid Ar Riyadh.

Pernah suatu ketika beliau mendapat undangan berceramah di salah satu pondok pesantren di Pasuruan Jawa Timur, dengan senyuman yang khas dari beliau, Habib Anis menolak dengan cara yang sangat sopan sekali.p

Aabila meninggalkan Masjid Ar- Riyadh, beliau kasihan para santri santrinya, karena sudah menjadi kebiasaan beliau setiap malam memberikan ceramah dan dakwah kepada para santrinya.

Bukanya beliau menolak, namun insyallah tanpa kehadiran beliau acara yang diadakan tetap akan berjalan lancar tuturnya sambil menebar senyum yang khas.

Alasan inilah yang membuat beliau jarang sekali meninggalkan Masjid Ar- Riyadh Gurawan. Pernah suatu ketika beliau pergi ke Pondok Al -Fallah Pasuruan.

Kepergian beliau ke Pondok di dearah Pasuruan seakan mengantar kepergian Kyai Ahmad pemimpin Pondok Al- Fallah menghadap sang Qholid.

Sebagai Ulama yang memiliki karomah beliau mengetahui, bahwa kesempatan tersebut merupakan terakhir kalinya beliau bertemu dengan sahabatnya yang sedang sakit.

‘ Tak selang lama setelah kedatanganya menjenguk Kyai Ahmad, pemimpin Pondok Al- Fallah Pasuruan pergi untuk selama lamanya.” Kenang Abdul Fatah (45th ), salah seorang murid Kyai Ahmad di Pasuruan.

Rangkaian haul digelar pada sabtu pagi (29/12/18 ), dilanjutkan subuh pukul 05.00wib (30/12) membaca kitab Simthud Duror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar (Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama, Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya) yang merupakan kitab karya Habib Ali bin Muhammad Al Habsy. (*)

Please follow and like us:
1
Spread the love
  • 14
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

soloraya koranjuri

FREE
VIEW