Rubah Tradisi, Warga Di Desa Ini Mati Tanpa Sebab

KORANJURI.COM-Puluhan bayi dua di antaranya orang dewasa dalam dua bulan meninggal tanpa sebab kata sesepuh desa menceritakan kejadian pagebluk tahun delapan puluhan silam.

Setiap tujuh bulan sekali bertepatan pada wuku Dhukut malam Selasa Kliwon, warga Desa Nglurah Lor dan Nglurah Kidul Tawangmangu Karanganyar menggelar tradisi Dhukutan di sebuah punden keramat situs Menggung.

Situs Menggung adalah kawasan cagar budaya yang di lindungi oleh Dinas Pelestari dan Peninggalan benda benda purbakala.

Diperkirakan situs yang di bangun era peradaban Prabu Erlangga ini adalah tempat persembahyangan Siwa Buda dan Hindu.

‘Diperkirakan sebelum era Erlangga situs tersebut sudah ada Terang mbah Ridin, sesepuh Desa Nglurah.

Bagi warga di kedua desa , situs Menggung adalah tempat bersemayamnya para leluhur yang harus mereka hormati dan lestarikan, karena tanpa adanya peran serta para leluhur, mustahil Desa Nglurah ada.

Oleh karena itu untuk mengenang dan melestarikan apa yang telah di bangun dan di tinggalkan para leluhur, tradisi Dhukutan di gelar oleh penduduk desa.

Menurut sesepuh desa, tradisi Dhukutan di gelar dalam rangka mewujudkan rasa syukur penduduk desa kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan rahmatNya, Oleh sebab itu tradisi yang di gelar di situs Menggung tidak hanya di ikuti oleh warga yang beragama Hindu, namun seluruh warga turut andil dalam acara tradisi adat Dhukutan.

Ungkapan wujud rasa syukur penduduk desa juga di haturkan kepada alam semesta yang telah melimpahkan berkah hasil bumi pertanian. Seluruh berkah hasil bumi yang di terima oleh penduduk desa sebagian kecil di kembalikan lagi sebagai persembahan sesaji di setiap tradisi Dhukutan.

Namun persembahan sesaji tersebut berupa tumpeng beserta jajan pasar yang semuanya terbuat dari jagung.

Di katakan oleh sesepuh desa, tiga hari menjelang pelaksaan Tradisi Dhukutan, penduduk desa lebih dulu menggelar adat kecrok yakni menumbuk jagung. Jagung yang masih menyatu dengan bonggol di pipril dengan cara di tumbuk.

Usai di pipril, biji jagung lantas di kecrok untuk yeng kedua kalinya agar kulit luar yang membungkus biji jagung mengelupas.
Jika seluruh biji jagung sudah bersih, barulah jagung jagung di giling di jadikan tepung. Apabila jagung selesai di giling di jadikan tepung, kemudian di olah di jadikan makanan untuk sesaji tradisi Dhukutan.

Diantaranya tumpeng nasi jagung, gandhik, geger sapi dan sesaji lainya. Untuk melengkapi rangkaian sesaji nasi tumpeng ada juga sayur bhongko, bothok lamtoro, pisang setangkep dan sayur ares yang berasal dari hati batang pisang.

Sayur ares adalah seesaji yang harus ada dalam setiap tradisi Dhukutan. Sayur ini di maknai sebagai symbol kesuburan yang di ibaratkan batang pisang yang tak pernah mati meski di tebang. Selama hati pisang masih ada di dalam batang maka pohon pisang tetap akan tumbuh. Sesaji yang di buat oleh penduduk desa berjumlah puluhan baki yang di letakan di encek bambu beralaskan pelepah pisang.

Tepat pada malam Selasa Kliwon, seluruh rangkaian sesaji persembahan warga desa di letakan di bangsal desa yang tak jauh dari situs candi Menggung. Di tempat ini beberapa sesaji di letakan di sebuah ruangan khusus yang di beri tambahan sedekah dantaranya tebu ireng, panggang ayam, panggang tempe , kelapa muda dan daun pohon beringin.

Satu perlakuan khusus di berlakukan bagi penduduk desa yang membuat sesaji, seluruh sesaji tidak boleh di masak dengan cara di goreng, hanya di perkenankan di tanak dan di bakar. Selain itu, cara memasak sesaji juga tidak boleh di cicipi. Pantangan ini terang sesepuh desa, untuk menghormati para leluhur agar jangan memakan sesaji sisa ciciipan.  Karena jika pantangan di langgar, maka penduduk desa akan menerima akibatnya.

Seperti halnya peristiwa yang terjadi di awal tahun delapan puluhan. Saat itu kenang mbah Ridin, ada salah seorang warga yang merubah tatanan upacara adat tradisi Dhukutan. Acara kesenian yang semula di gelar di luar komplek situs Menggung, di ganti di lakukan di dalam komplek situs Menggung. Sesaji yang selalu menggunakan bahan jagung di ganti dengan beras, akibatnya, dalam dua bulan penduduk desa terkena wabah pagebluk penyakit yang tidak jelas.

Delapan belas bayi dua di antaranya orang dewasa dalam dua bulan meninggal tanpa sebab kata sesepuh desa menceritakan kejadian pagebluk tahun delapan puluhan.

Pagi sakit sore mati, sore sakit pagi mati imbuhnya.

Warga tidak menyangka jika hal sepele yang mereka langgar akibatnya berdampak sangat besar bagi seluruh penduduk desa. Pantangan yang di langgar itu bermula dari keinginan salah seorang warga desa yang sok jagoan. Warga tersebut merasa dirinya orang pintar, duk deng dan merasa paling berkuasa di Nglurah.

‘Warga sebenarnya tidak ingin melanggar tradisi yang sudah di gelar sejak ratusan tahun dengan tatanan kebiasaan, tetapi karena tidak berani dengan orang itu, akhirnya penduduk hanya mengiyakan saja kemaunya yang merubah tatanan tradisi Dhukutan.
Tetapi akibat yang di timbulkan fatal, ulas mbah Ridin

Di tambahkan ceritanya, untuk menangkal agar pagebluk tidak terus berlanjut maka tradisi Dhukutan di ulang untuk ke dua kalinya.

Sedangkan warga desa yang memprovokasi  merubah tatanan adat akhirnya meninggal dunia tanpa sebab. Hanya saja beberapa warga desa pagi itu sempat melihat sebuah sinar cahaya meelesat masuk kedalam rumah orang tersebut. Tak lama setelah sinar masuk kedalam rumah, di kabarkan orang yang merubah tatanan adat tradisi Dhukutan mati.

Mengawali proses pelaksanaan tradisi Dhukutan, usai seluruh sesaji di sanggarkan di balai desa, tepat pada hari Selasa Kliwon pagi, warga Desa Nglurah Lor dan Nglurah Kidul berkumpul di balai desa. Mereka beriringan membawa sesaji naik ke atas puncak candi Menggung. Warga Desa Nglurah Lor naik melalui tangga utama, sedangkan warga dari desa Nglurah Kidul melewati jalan tangga di samping candi Menggung.

Keterangan foto: warga gelar tawur sesaji

Iring iriingan sesaji sesampainya di atas puncak candi, lantas di letakan di depan arca Durgandini dan arca Siwa yang di sebut oleh penduduk desa sebagai arca Erlangga.

Kedua arca tersebut sangat di keramatkan oleh warga desa, mereka meyakini jika kedua arca  penjaga ghaib pelindung desa.

Sebelum upacara doa di lakukan, arca Durgandini dan Erlanga di balut dengan udeng ikat kepala gadung melati dan motif batik lainya.

Di atas udeng uba rampe sesaji bunga setaman dan bunga cepaka kuning di letakan di atas kepala arca. Bunga cepaka kuning adalah bentuk penghormatan kepada para penguasa ghaib yang sangat di muliakan sebagai leluhur oleh penduduk desa setempat. Pada saat upacara sesaji di gelar, seluruh warga desa Nglurah Lor dan Nglurah Kidul kumpul bersama di  situs Menggung.

Pada puncak acara tradisi, usai pasrah sesaji dilakukan, sesaji sesaji di bagikan  kepada warga di dua desa  untuk tawur sesaji.

Upacara ini menjadi puncak dari tradisi Dhukutan yang di gelar di candi Menggung Desa Nglurah, Tawangamangu Karanganyar. Sebelum upacara tawuran di lakukan, seluruh sesaji lebih dulu di jadikan satu dalam encek kayu lantas di bawa mengelilingi pelataran candi Menggung sebanyak tiga kali, sembari menyebar sebarkan sesaji.

Pada putaran yang ketiga kalinya, sesaji di sebarkan ke dalam kerumunan warga masyarakat sebagai puncak dari acara tawuran.

‘Tawuran oleh penduduk desa di pakai sebagai cara untuk membuang sengkala dan tolak bala Terang mbaah Ridin.

Usai menggelar tardisi tawuran di pelataran candi Menggung, warga di dua desa kemudian melanjutkan upacara tawur di desa Nglurah Kidul di sebuah pelataran tanah lapang yang dianggap keramat.

Di kisahkan, bagi warga di dua desa, tawuran meenjadi bagian yang tak terpisahkan dalam Dhukutan. Tawuran bermula dari kisah perjalanan Narotama, patih Prabu Erlangga yang tengah melakukan perjalanan mencari jati diri mendekat kepada Sang Hyang Widi. Patih Narotama di kenal dengan nama mbah Menggung yang sekarang di anggap punden desa Nglurah. Nama Menggung sebenarnya memiliki makna sanepo Melengake Gusti, berusaha mendekat kepada Tuhan Yang Maha Agung.

Perjalanan mbah Menggung sampai ke Desa Nglurah di awali dari desa Beruk. Saat ia tiba di sebuah desa, Mbah Menggung melihat ada seseorang yang mengupas kelapa dengan menggunakan beruk. Melihat pekerjaan warga desa tersebut, Mbah Menggung lantas memberi nama desa yang ia lewati dengan nama Desa Beruk

Dari Desa Beruk. Mbah Menggung mampir di rumah kepala dusun, ia di jamu dengan ubi dari kebunya sendiri. Akan tetapi pada saat di masak, ubi tersebut tak bisa empuk alias mogol, oleh karena itu mbah Menggung lantas memberi nama desa yang ia singgahi dengan nama Desa Mogol.

Dari desa Mogol mbah Menggung melanjutkan perjalananya ke Gunung Lawu, namun saat melihat sebuah desa ia termangu manggu. Dari termangu mangu, desa yang ia lihat lantas di beri nama menjadi Desa Tawangmangu, yang artinya melihat sembari termangu mangu. Perjalanan spiritual yang di lakoni patih Narotama akhirnya terhenti di Desa Nglurah.

Saat berada di Desa Nglurah, Narotama bertemu dengan Nyi Rasa Putih yang tinggal di desa seberang ( Nglurah kidul). Dari awal pertemuan itu timbulah pertengkaran yang merembet kepada warga di dua desa, Nglurah Lor dan Nglurah Kidul. Setiap kali bertemu Narotama dan Nyii Rasa Putih selalu bertengkar, tak jarang pertenggkaran itu menyebabkan warga turut berkelahi saling membela punden mereka masing masing.

Namun pertengkaran Narotama dan Nyi Rasa putih sebenarnya benih cinta, karena dari rasa benci akhirnya timbul rasa rindu. Perasaan benci yang selama ini menggelayut di dalam bathin, lama lama semakin sirna tergantikan rindu dan cinta. Hingga terus berlanjut ke jenjang perkawiinan yang dilangsungkan pada hari Selasa Kliwon wuku Dhukut.

Berawal dari kisah perjalanan Narotama, tradisi Dhukutan kemudian di gelar di Desa Nglurah.

Situs Menggung bagi penduduk desa adalah tempat keramat yang sangat di sakralkan. Selain dua buah arca, Erlangga dan Durgandini, terdapat juga arca dewi Kilisuci dan arca patih Narotama.

Setiap waktu tertentu tidak sedikit warga dari desa lain menggelar ritual penyuwunan di dalam candi Menggung, apalagi jika bertepatan pada masa pemilihan kepala desa.
Hampir bisa di pastikan seluruh calon kepala desa akan menggelar ritual penyuwunan di situs Menggung.

Mereka berharap keinginanya menduduki jabatan kepala desa bisa terkabulkan. /  DJoko J

Please follow and like us:
0
Spread the love
  • 17
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

soloraya koranjuri

FREE
VIEW