front Pembela Pancasila, Minta Pemerintah Tetapkan Sumpah Pemuda Sebagai Hari Libur Nasional

KORANJURI.COM – Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober seakan tak lagi memiliki makna dan ruh pemersatu bagi bangsa dan Negara Indonesia. Hal tersebut di katakan oleh Ketua Umum Fron Pembela Pancasila, Kusuma Putra.

Ormas kebangsaan yang kerap menyuarakan nilai nilai kebangsaan ini dengan tegas mengkritik Pemerintah yang di anggapnya telah melalaikan sejarah yang pernah di buat para pemuda .

Di katakan Kusuma, di jaman reformasi seperti sekarang ini telah banyak generasi muda yang rapuh jiwa nasionalismenya.

Rasa persatuan tak lagi ada, isu perpecahan semakin tampak di ambang mata, nilai kebangsaan hanya menjadi slogan semata.

Sehingga Hari Sumpah Pemuda tak lagi memiliki makna dan arti bagi para generasi muda sekarang ini.

Kusuma mengingatkan kepada Pemerintah, peran pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan, mereformasi rezim Orde Baru , yang semua itu tak lepas dari peran para pemuda.

‘Perlu di ingatkan kembali sejarah pemuda tempo dulu’ Kata Kusuma menegaskan

Sejak awal pergerakan Budi Utomo, Sumpah Pemuda , proklamasi, perang mempertahankan kemerdekaan 1945, pergerakan 1965, reforrmasi, semua tak lepas dari peran para pemuda.

Oleh karena itu lanjut Ketua Umum Ormas Kebangsaan Front Pembela Pancasila, Hari Sumpah Pemuda memainkan peran sangat penting sebagai sarana pemersatu, utamanya sejarah Bahasa Indonesia dalam hal penggunaanya sebagai Bahasa Nasional.

Di tambahkan Kusuma, Sumpah Pemuda sendiri sebenarnya adalah hasil putusan yang di terima pada kongres Pemuda ke dua pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1928.

Salah satu isi dalam Sumpah Pemuda bertuliskan, bahwa pemuda pemudi Indonesia memutuskan untuk menggunakan Bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa.

Pada kongres tersebut tambah Kusuma mengungkapan sejarah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Muhhamad Yamin mengatakan, bahwa ada dua kemungkinan bahasa yang bisa menjadi bahasa persatuan yaitu Jawa dan Melayu.

Namun Yamin berpendapat, Bahasa Melayu lah yang akan menjadi bahasa pergaulan, hingga akhirnya di jadikan sebagai Bahasa Indonesia.

Berawal dari kongres Sumpah Pemuda inilah, asal mula Bahasa Indonesia menjadi bahasa pemersatu karena adanya kesepakatan bersama para pemuda sehingga Bahasa Melayu menjadi bahasa Nusantara,

Selain alasan tersebut, factor system bahasa yang dianggap oleh para pemuda saat itu sangat sederhana sebagai sarana pembangunan, pengetahuan dan keilmuan, maka Bahasa Melayu di ubah menjadi Bahasa Indonesia yang jauh lebih maju dari pada Melayu .

Menyikapi rapuhnya rasa nasionalisme di kalangan para generasi muda, Kusuma mengkritisi, semua tak lepas dari tidak adanya kepedulian Pemerintah terhadap sejarah Sumpah Pemuda.

Pemerintah menurut Kusuma, harus membangun sejarah sumpah Pemuda dengan menjadikanya sebagai hari libur nasional. Memperingati nya dengan berbagai cara yang bertujuan menumbuhkan rasa persatuan bersama.

Di tengah maraknya berbagai isu sara yang membecah belah bangsa ini melalui media social, cetak dan elektronik, aku Kusuma, Pemerintah seharusnya semakin gencar membangun pondasi rasa persatuan untuk para generasi muda, khususnya di kalangan para pelajar dan mahasiswa.

Hari Sumpah Pemuda bisa sebagai contoh dan tonggak sejarah, karena bagi Ketua Umum Ormas Kebangsaan Front Pembela Pancasila, hanya di pundak para generasi muda kelak bangsa Indonesia akan menemukan ke makmuran, kesejahteraan dan berdikari dalam hal ekonomi, social, politik dan budaya. Berdiri tegak sebagai mercusuar dunia di masa yang akan datang./ jk

Please follow and like us:
1
Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

soloraya koranjuri

FREE
VIEW