Inilah Awal Mitos Ritual Esek Esek Di Gunung Kemukus.


    

Makam Pangeran Samodra

KORANJURI.COM – ( Misteri  )Ritual hubungan intim dengan perselingkuhan, saat menjalani laku ritual di Gunung Kemukus, tidak hanya menjadi mitos kontroversi yang sangat  menarik untuk di kupas dan di simak. Terjadinya kepercayaan masyarakat jika melakukan hubungan intim saat ritual di gunung kemukus cepat menjadi kaya, lambat laun akhirnya melahirkan prostitusi baru di kawasan wisata religi Gunung Kemukus.

Meski mitos tersebut kerap di tepis oleh pihak pengelola kawasan wisata religi, tetapi fakta di lapangan membuktikan, jika Pemkab Sragen memang pernah menutup dan melarang kumukus sebagai ajang prostitusi di tahun 2014. Bahkan beberapa tahun usai penutupan, bak cendawan di musim hujan, meski tidak seramai dulu lagi namun praktek prostitusi rupanya sulit di lepaskan dengan keberadaan gunung kemukus.

Lantas bagaimana mitos dan prostitusi menyatu menjadi kepercayaan para pelaku ritual yang akhirnya menyimpang dari tatanan budaya dan agama ?

Gunung Kemukus adalah tempat palereman Pangeran Samodra, yang di yakini sebagai salah satu putra raja Majapahit yang meninggal dalam perjalanan dan di makamkan di Gunung kemukus.

Selain makam Pangeran Samodra, di Gunung Kemukus terdapat juga sumber mata air bernama sendang Ontrowulan. Dua tempat inilah yang menjadi jujugan para pelaku ritual, serta menumbuhkan keberadaan mitos ritual hubungan intim di gunung Kemukus.

Seperti lazimnya kepercayaan para pelaku ritual yang kerap meniru tokoh yang di mitoskan. Ritual hubungan intim dengan selingkuhan di gunung kemukus tak lepas karena mereka meniru perjalanan hidup Pangeran Samodra dan Ontrowulan, serta persepsi pemahaman yang keliru dari sebuah mitos.

sendang ontrowulan

sendang ontrowulan

Di akui, memang minim sekali literatur  sebagai referensi catatan sejarah menyoal kisah  hidup perjalanan keduanya.  Sampai akhirnya mitoslah yang menjadikan para pelaku ritual sebagai pijakan perilaku saat mereka menjalani ritual di Gunung Kemukus.

Gunung Kemukus, adalah obyek wisata religi di Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen. Gunung Kemukus berada di tepi luapan waduk Kedung Ombo. Apabila debit air waduk naik, maka akses jalan terdekat ke Gunung Kemukus tertutup oleh luapan air waduk,  sehingga  tidak bisa di lewati oleh kendaraan.

Tetapi sekarang, Pemerintah Kabupaten Sragen telah membangun jembatan penyebrangan baru yang rampung di kerjakan tahun ini, sehingga seluruh kendaraan bisa berlalu lalang melewati jembatan.

Dulu sebelum pembangunan jembatan baru rampung di kerjakan,  pelaku ritual dan peziarah harus memutar arah sejauh 6km mengitari Desa Miri agar bisa mencapai Gunung Kemukus. Jalur memutar tersebut berada di kilometer satu dari pasar Gemolong Sragen. Sedangkan jalan yang tertutup oleh luapan air waduk hanya bisa di lewati dengan mempergunakan perahu penyeberangan.

Gunung setinggi kurang lebih 300meter dari atas permukaan air laut tersebut berada di kawasan bukit kapur. Pada saat musim kemarau datang, penduduk hanya mengandalkan hidup dari hasil pertanian jagung. Sedangkan pada saat musim penghujan, penduduk akan beralih bercocok tanam padi. Selain hasil dari bercocok tanam, mencari ikan di waduk juga menjadi salah satu mata pencaharian penduduk desa di sekitar Gunung Kemukus.

Para pelaku ritual yang datang ke Gunung Kemukus biasanya ramai pada saat malam Jumat Pon. Sedangkan pada malam Jumat Kliwon dan malam Selasa Kliwon, tak seramai malam Jumat Pon. Karena malam Jumat Pon merupakan malam pasaran  Gunung Kemukus. Obyek wisata religi Gunung Kemukus merupakan salah satu obyek wisata andalan Pemerintah Kabupaten Sragen, meski keberadaanya penuh kontroversi dan dilematis.

Di satu sisi menjadi sumber pendapatan Pemerintah daerah dan penduduk desa, di sisi yang lain melahirkan problema baru akibat maraknyaa prostitusi.

spanduk larang kegiatan prostitusi di gunung kemukus

spanduk larang kegiatan prostitusi di gunung kemukus

Tahun 80an, prostitusi di Gunung Kemukus memang tak semarak tahun 90an hingga tahun 2000an. Seiring dengan banyaknya para ziarah yang datang menjalani ritual di Gunung Kemukus, aktifitas masyarakat  Gunung Kemukus juga semakin bertambah komplek. Kawasan perbukitan yang dulunya sepi  jauh dari aktifitas warga, sekarang ramai dikunjungi para pelaku ritual..

Para perempuan penjaja cinta yang semula menjual diri dengan cara sembunyi sembunyi mulai berubah terang terangan, bahkan mucikari mulai berdatangan menampung para wanita tuna susila  di  Gunung Kemukus.

Mereka mengontrak tanah dan rumah untuk kegiatan hiburan malam dan prostitusi. Merebaknya prostitusi di Gunung Kemukus di picu  adanya kepercayaan ritual perselingkuhan yang harus mereka lakukan setiap kali menjalani ritual di  Gunung Kemukus. Semua di lakukan agar bisa memperoleh kesuksesan dan kekayaan. Kepercayaan seperti ini menjadi salah satu fakor utama merebaknya prostitusi di Gunung Kemukus pada saat itu.

Jasa perselingkuhan dan hubungan intim di Gunung Kemukus, akhirnya membuat banyak wanita tuna susila dari daerah lain datang dan menetap di Gunung Kemukus. Rumah warga yang semula berfungsi sebagai rumah tangga biasa, di sewa di alih fungsikan  menjadi rumah bordil dan kafe.

Obyek wisata yang semula sakral nan religi mulai berubah menjadi ajang prostitusi, seiring dengan merebaknya mitos bahwa hubungan intim dengan selingkuhan di Gunung Kemukus akan  mendatangkan kekayaan.

Ritual yang semula dipakai sebagai upaya untuk ngalap berkah, memohon berkah kemurahan kepada Tuhan YME, akhirnya berubah menjadi tempat  untuk berburu kekayaan dengan cara selingkuh dan berhubungan intim karena pemahaman yang keliru.

Ritual hubungan intim dengan selingkuhan lahir bukan tanpa alasan. Perilaku tersebut lahir karena pemahaman keliru memahami mitos perjalanan hidup Pangeran Samudro dengan Nyai Ontrowulan .  Pemahaman keliru semakin di yakini, saat pelaku ritual  berhasil memperoleh kesuksesan usai mereka melakukan hubungan intim dengan selingkuhan di Gunung Kemukus selama tujuh kali malam Jumat. Meski kesuksesan tersebut belum tentu hasil dari ritual perselingkuhan.

pemandian sendang ontrowulan

pemandian sendang ontrowulan

Di kutip dari beberapa sumber dikisahkan, Joko Samudro atau yang lebih di kenal dengan nama Pangeran Samudro adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya V yang lahir dari ibu selir bernama R.A.Ontrowulan, atau yang kerap dipanggil Nyai Ontrowulan. Namun ada juga yang menceritakan jika Nyai Ontrowulan sebenarnya adalah ibu tiri Pangeran Samudro yang keduanya sama sama jatuh cinta.

Saat kerajaan Majapahit runtuh, Pangeran Samudro tidak ikut melarikan diri bersama dengan saudara-saudaranya. Pangeran Samudro memilih pergi ke Demak dan belajar ilmu agama kepada Sunan Kalijaga. Beberapa lama berguru kepada Sunan Kalijaga,  Pangeran Samudro kemudian di suruh pergi benimba ilmu kepada Kiai Ageng Gugur dilereng Gunung Lawu.

Di desa yang sekarang bernama Desa Pandan Gugur, Pangeran Samudro menimba ilmu agama dan filsafat kepada Ki Ageng Gugur, guru yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Setelah beberapa tahun berguru kepada Ki Ageng Gugur, Pangeran Samudro kemudian kembali pulang ke Demak di temani oleh kedua orang abdinya. Namun dalam perjalanannya pulang ia jatuh sakit sampai akhirnya meninggal dunia. Sedangkan kedua orang abdinya  menyampaikan wafatnya Pangeran Samodra ke Demak.

Mendengar kabar kematian saudaranya, Sultan Demak  lalu menyuruh ke dua orang abdi menguburkan jasad Pangeran Samudro di tempat beliau wafat. Oleh kedua orang abdi tersebut, jasad Pangeran Samudro kemudian di makamkan di sebuah bukit yang selalu tampak kabut hitam pada saat musim kemarau dan penghujan. Kabut yang menyerupai  bentuk kukusan  akhirnya menjadi nama bukit yang kemudian di sebut dengan nama Gunung Kemukus

Mendengar kabar kepergian putranya, Nyai  Ontrowulan memutuskan pergi mengunjungi pusara putranya. Di sana Nyai Ontrowulan merebahkan diri di pusara dan memperoleh pesan ghaib. Dalam pesanya Pangeran Samudro berkata kepada ibunya. Kalau ingin bertemu dengannya, Nyai Ontrowulan lebih dahulu harus menyucikan diri di sendang yang tak jauh dari Gunung Kemukus.

Usai menyucikan diri di sendang, Nyai Ontrowulan mengurai dan mengibaskan rambutnya. Dari kibasan rambut Ontrowulan berjatuhan bunga bunga penghias rambut dan tumbuhlah pohon Nagasari yang sekarang ada di sekitar sendang. Usai menyucikan diri Ontrowulan akhirnya muksa. Sedangkan sendang tempat ia sesuci sekarang di kenal dengan nama Sendang Ontrowulan.

Kisah ini satu dari beberapa versi cerita mitos Pangeran Samodra dan Nyai Ontrowulan

Dalam versi yang lain juga di ceritakan, runtuhnya kerajaan Majapahit pada  tahun 1478 kemudian berdiri kerajaan Demak, yang saat itu dipimpin oleh Raden Patah. Raden Patah mempunyai putra bernama Pangeran Samudro yang berperilaku kurang terhormat, karena jatuh cinta kepada ibunya sendiri, R.A.Ontrowulan.

Namun rupanya cinta Pangeran Samudro diterima oleh ibunya. Ketika Raden Patah mengetahui hubungan ibu dan anak tersebut, ia dicari dan diburu sampai di Gunung Kemukus. Sementara itu, Ontrowulan yang terlanjur  jatuh cinta kepada anaknya, nekad meninggalkan Demak untuk mencari anaknya.

Pencarian Ontrowulan akhirnya di pertemukan dengan Pangeran Samudro, lalu terjadilah suatu pertemuan yang menyedihkan. Keduanya melakukan hubungan yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang ibu dan anak..

Kisah perburuan Pangeran Samudro terus berlanjut, sampai akhirnya keberadaanya di ketahui ada di Gunung Kemukus dan berhasil  di bunuh. Tetapi pada detik detik terakhir sebelum menghembuskan nafas terakhirnya Pangeran Samudro berpesan ,

Bagi siapa saja yang mempunyai keinginan atau cita-cita, untuk  mendapatkannya,harus dengan sungguh-sungguh, mantap, teguh pendirian, dan dengan hati yang suci. Jangan tergoda oleh apa pun, harus terpusat pada yang dituju atau yang diinginkan. Dekatkan dengan apa yang menjadi kesenangannya, seperti akan mengunjungi idamanya (  Dhemenane, Pacar gelap; selingkuhan )”.

Dari dua versi cerita mitos tersebut, terdapat lagi mitos lain. Konon menurut cerita, Pangeran Samudro adalah putra tertua istri Prabu Brawijaya dari kerajaan Majapahit. Setelah menginjak dewasa, Pangeran Samudro di suruh pergi ke dunia luar untuk mengumpulkan berbagai pengalaman yang kelak akan ia pergunakan di masa depan.

Beberapa tahun berada di dunia luar,  Pangeran Samudro kemudian kembali lagi ke istana dan ia jatuh cinta kepada salah seorang selir ayahnya bernama R.A. Ontrowulan. Karena ketampananya, cinta Pangeran Samudro kemudian diterima. Ketika mengetahui Pangeran Samodra mencintai selirnya,  Prabu Brawijaya murka dan mengusir keduanya keluar dari keraton.

Pangeran Samodra dan Ontrowulan lantas menetap di Gunung Kemukus sebagai suami-istri yang bahagia.

Tak jauh dari puncak Gunung Kemukus, terdapat sebuah sendang yang sangat disukai oleh R.A. Ontrowulan. Di sendang itu pula Ontrowulan seringkali menghabiskan waktunya duduk bermeditasi sepanjang hari.

Menurut cerita, konon sendang tersebut dibuat dengan cara menancapkan sebatang tongkat ke dalam tanah. Sedangkan pohon-pohon besar yang menjadi hutan lebat di sekeling sendang, diyakini oleh penduduk desa berasal dari bunga-bunga pengikat rambut Ontrowulan.

Kebahagian terus berjalan, sampai pada suatu ketika Ontrowulan berkeinginan pergi bertapa di sebuah tempat yang jauh untuk waktu yang sangat lama. Pangeran Samudro yang kesepian di tinggal Ontrowulan, lantas jatuh sakit dan meninggal dunia. Oleh penduduk desa jenazahnya kemudian dimandikan di sendang dan dimakamkan .

Saat kembali dari bertapa, Ontrowulan mandi di Sendang kemudian naik ke puncak Gunung Kemukus  menemui suaminya. Namun alangkah kagetnya saat mengetahui suaminya telah wafat. Tak kuat menahan sedih yang menusuk hatinya, akhirnya Ontrowulun pergi menyusul suaminya.

Beberapa tahun sejak kepergianya,  Pangeran Samudro kerap menampakkan diri secara ghaib. Saat itu Pangeran Samodra berpesan,  bahwa ia akan memenuhi keinginan setiap orang yang datang ziarah ke makamnya dengan membawa bunga, namun dengan syarat bahwa orang itu harus memiliki pasangan.

Berawal dari berbagai mitos perjalanan hidup Pangeran Samodra dan Ontrowulan,  para pelaku ritual meyakini jika bersama pasangan  menjalani ritual di makam Pangeran Samodra, maka keberhasilan akan cepat di capai. Makna pasangan bisa jadi melahirkan makna  selingkuhan bagi pelaku ritual yang tidak memiliki pasangan. Sedangkan mendekatkan diri pada kesenangan yang di tuju ( demenane : kesukaanya ) , di tafsirkan menjalin hubungan intim.

‘Kondisi seperti itu sekarang sudah mulai berubah, sejak segala kegiatan prostitusi yang ada Gunung Kemukus di tutup secara resmi oleh aparat pada akhir tahun 2014’ Ujar Warti, salah seorang pemilik rumah di sekitar makam.

‘Secara tegas Pemerintah Kabupaten Sragen melarang aktifitas dan kegiatan Prostitusi di Gunung Kemukus dengan memberi papan larangan di kawasan kemukus’ Imbuhnya. (Jk)

 

 

Please follow and like us:

    


123

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*