Ekonom Agus Sahid : 5 – 10 Tahun Ke depan, Mall & Super Market Di ramal Akan Gulung Tikar


    

ekonom Agus Sahid, SE

KORANJURI.COM- Jelang tiga tahun Pemerintahan Kabinet Kerja besutan Presiden Jokowi – Jk, ternyata tidak banyak harapan perbaikan ekonomi yang bisa di tumpukan kepundaknya. Terbukti para pakar ekonom yang di daulat dan di tunjuk oleh Presiden mengampu kebijakan strategis sektor ekonomi tidak mampu berbuat banyak mengatasi lemahnya ekonomi di tanah air.

‘Dari mulai sejak awal menjabat sampai dengan sekarang, sector riil tidak banyak berubah, justru semakin hari semakin terpuruk.’ Kata Agus Sahid, ekonom sekaligus pelaku usaha yang turut terdampak dari ketidak jelasan kebijakan ekonomi pemerintah.

Serapan anggaran dari pusat ke daerah yang tidak maksimal juga menambah daftar panjang persoalan ekonomi di tanah air. Meski Agus tidak menampik, banyak juga sector lain yang maju pesat di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi

Masuknya Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan saat itu kata Agus, di harapkan mampu menyelesaikan berbagai persoalan ekonomi bangsa termasuk lemahnya daya beli masyarakat, serta menekan melonjaknya laju harga kebutuhan pokok di pasaran. Akan tetapi apa yang di harapkan Agus rupanya tidak terwujud, justru sekarang banyak pelaku usaha yang gulung tikar karena tidak dapat menutup biaya operasional dan menggaji para pegawai.

‘ Apalagi membayar hutang di bank, sudah tidak bisa di lakukan’ Ujarnya menandaskan kondisi ril di kalangan para pelaku usaha.

Sebagai seorang ekonom Agus Sahid menyorot ketidak mampuan pemerintah menangani sector riil dengan menjamurnya mini market milik konglomerat pemodal besar merambah ke pasar rakyat. Kebijakan ini tidak hanya mematikan swalayan di daerah, lima hingga sepuluh tahun ke depan Agus meramalkan, mall dan supermarket juga akan turut gulung tikar jika kondisi ekonomi masih seperti sekarang ini.

Agus menilai, pemerintah daerah tutup mata dengan membanjirnya mini market milik konglomerat di daerah. Mini market tersebut tidak hanya membunuh pelaku usaha kelas menengah kebawah termasuk pasar pasar tradisional, tetapi juga akan memonopoli pasar swalayan di tanah air.

Bagi Agus, usaha rakyat di level paling bawah saat ini yang bisa bertahan terhadap kebijakan pemerintah, karena di kelola secara swamandiri tanpa membutuhkan tenaga kerja. Sehingga ongkos operasional yang di keluarkan bisa di tekan serendah mungkin.

Banyak kredit modal kerja perbankan macet akibat tingginya suku bunga pinjaman bank yang mencapai kisaran 13% hingga 15 % pertahun. Agus menduga, tingginya suku bunga pinjaman bank akibat adanya permainan para mafia bankir milik konglomerat di level perbankan.

Agus berharap, pemerintah segera mungkin menurunkan bunga pinjaman bank maksimal 6% pertahun. Dengan menurunya bunga pinjaman bank, maka produsen di Indonesia menjadi yang termurah di dunia. Pasar global dan domestik bisa di kuasai produk produk dari dalam negeri, sehingga akan memicu melonjaknya ekspor secara drastis dan menurunkan impor.

‘ Neraca perdagangan surplus, devisa akan masuk.’ Urainya

Dengan membanjirnya devisa di dalam negeri, otomatis cadangan devisa negara meningkat dan nilai tukar rupiah terangkat naik terhadap mata uang asing.

Dampak dari adanya penguatan ekonomi jelas Agus, akan tercipta jutaan lapangan kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat. Capaian kerja ini akan mampu memakmurkan dan mensejahterakan rakyat.

Namun imbuh Agus mengingatkan, kemakmuran dan kesejahteraan harus dibarengi memproduk bahan dasar yang belum di produksi di Indonesia, agar produk nasional tidak tergantung pada bahan dasar impor. Urainya mengakhiri / Jk

Please follow and like us:

    


123

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*