Di Tempat inilah Para Empu Beradu Kesaktian


    

air-ejun kedungkayang

KORANJURI.COM-Air terjun Kedung Kayang  di Desa Klakah, Selo Boyolali adalah air terjun alami yang memiliki ketinggian kurang lebih 30 meter dengan  kemiringan sekitar 80 derajat. Air yang mengalir ke air terjun berasal dari empat sumber mata air yaitu, mata air umbul sewindu, mata air tuk songo, mata air tuk abang plutungan dan mata air tuk dandang. Seluruh sumber mata air tersebut berasal dari aliran dua sungai di Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Dari cerita  penjaga obyek wisata Kedung Kayang, mitos kedung kayang terjadi pada jaman mataram kuno. Kala  itu para empu mempercayai jika aliran sungai Pabelan yang bersumber dari dua gunung dipercaya memiliki kekuatan tidak akan mengalirkan lahar panas pada waktu Gunung Merapi meletus. Kepercayaan yang mereka anut lantaran para empu mempercayai  sungai Pabelan dijaga oleh dua sosok ghaib, Kyai Gadung Melati dan Nyai Widari Welas Asih.

Dari keyakinan tersebut para empu lantas menjadikan Kedung Kayang sebagai tempat  pertemuan tiga orang empu untuk mengadu ilmu kesaktian. Ketiganya adalah Empu Panggung, Empu Puthut dan Empu Khalik. Setiap kali mereka bertemu di sungai Pabelan, ketiganya mengadu kesaktian dengan cara melempar telur ke arah kedung ( sumber mata air ). Adu kesaktian ini biasa di lakukan tiap bulan Muhharam dengan menggunakan telur angsa sebagai batu lemparan.

Telur telur yang di lempar dari atas tebing ke arah kedung apabila masih utuh, maka dialah yang dianggap sebagai pemenangnya.

Hingga pada suatu hari saat pertandingan dilakukan, ketiga telur yang di lemparkan oleh ketiga orang empu itu semuanya pecah dan masuk ke dalam kedung. Namun cangkang telur ketiganya ternyata lenyap tak berbekas, tak satupun dari ketiga telur angsa tersebut menyisakan cangkang.

Oleh ketiga orang empu mereka lantas sepakat memberi nama sumber mata air tersebut dengan nama Kedung Kayang. Sedangkan cangkang telur yang lenyap tanpa bekas itu oleh Kyai Gadung Melati dan Nyai Widari Welas Asih akhirnya di sabda dan di timbulkan sumber mata air baru yang setiap kali akan terus mengalir turun ke dalam tebing menjadi air terjun Kedung Kayang.

Ketiga mata air yang di timbulkan dari bekas lemparan telur ketiga orang empu berada di sisi sebelah barat, timur dan utara kedung kayang. Selain memiliki keindahan alam air terjun, Kedung Kayang sarat dengan nuansa mistis. Beberapa keanehan seringkali terjadi pada saat bulan suro dalam penanggalan Jawa. Pada malam Jumat Kliwon yang bertepatan pada bulan sura, di tempat itu sering terdengar lantunan  gending gamelan Jawa.

Suaranya terdengar menggema hingga ke seluruh desa desa yang tak jauh dari Kedung Kayang. Suara gamelan itu seperti suara lantunan gending yang tengah menggelar hajatan ageng.

Tak hanya suara gending gamelan, pada malam Kamis Wage di bulan yang sama, Kedung Kayang juga di penuhi kera kera yang datang entah darimana hingga mencapai ribuan ekor. Kera kera ini seakan-akan mendatangi hajatan besar, berkumpul dan berpesta di atas Kedung Kayang. Pemandangan ini jamak dilihat oleh masyarakat sekitar dan para pengunjung, tak terkecuali pelaku ritual yang biasa menggelar ritual tiap bulan sura.

Para pelaku ritual yang datang ke tempat ini sering  mengambil air yang bersumber dari sendang panguripan dan sendang kinasihan yang tercipta dari lemparan ketiga orang empu. Air sendang panguripan biasanya dijadikan sebagai obat dan sarana pelarisan bagi orangyang meyakininya.

Begitupun sumber mata air kinasihan, mata air ini konon dipercaya mampu mendekatkan jodoh serta menjadikan seseorang memiliki kharisma hingga menjadikan dirinya dicintai oleh siapapun. Oleh sebab itu tak hanya para pelaku ritual saja yang memanfaatkan sumber air ini, para pengunjung yang datang ke tempat ini biasanya memiliki tujuan tertentu dengan cara mengambil air yang bersumber dari mata air keramat tersebut./jk

Please follow and like us:

    


123

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*