Warga Kartasura Temukan Yoni Di komplek Makam, Yang Di Perkirakan Bekas Bangunan Candi


    

KORANJURI.COM – Item, warga Sraten, Pucangan Kartasura, yang setiap hari bekerja sebagai penggali makam, menemukan batu yoni yang di perkirakan di buat pada masa peradaban Hindu kuna.

Yoni yang memiliki diameter lebih dari satu meter persegi tersebut dianggap berukuran yang paling besar, jika dibandingkan dengan yoni yoni yang selama ini pernah ditemukan.

‘Pada saat di temukan batu yoni terpendam di dalam tanah dengan posisi miring ke barat’ Terang Item.

‘Meski tanah di samping kiri kanan yoni sudah di gali, tetapi batu tersebut masih belum bisa diangkat naik, karena beratnya beban batu.’ Tambah keteranganya

Di tambahkan Item, batu itu sebenarnya sudah ada sejak ia masih kecil, tetapi yang terlihat hanya sudut batu yang menyembul keluar dari dalam tanah.

Anehnya lagi kata Item, batu tersebut naik ke permukaan tanah sendiri hingga lebih dari separuh bagian.

Karena merasa penasaran dengan bentuknya, Item kemudian mengali tanah di sekelilingnya dan di ketahui jika batu tersebut adalah batu Yoni.

Terlihat dari ciri khas batu yoni yang di salah satu bagian terdapat bentuk seperti pancuran.

Menurut Item, batu tersebut jaman dahulu di anggap keramat dan di jadikan punden oleh orang orang. Karena semasa kecil ia sering menyaksikan banyak orang yang datang ke batu untuk berdoa.

Akan tetapi seiring dengan perkembangan jaman, batu tersebut kemudian tak lagi di pakai untuk ritual.

‘ Rencananya pekan ini warga akan menggali dan mengangkat batu dari dalam tanah.’Katanya

Selain batu yoni, Item juga menemukan struktur bangunan pondasi yang terbuat dari batu bata merah berukuran diameter kurang lebih 30 X 40 cm, di perkirakan batu bata merah tersebut di buat pada masa yang sama.

Temuan yoni dan batu bata merah di tempat pemakaman umum Dusun Sraten, Pucangan Kartasura, memiliki kesamaan dengan temuan yoni dan batu bata merah di Desa Giriroto, Sawahan Boyolali, yang kemudian oleh pihak BP3 Jawa Tengah diketahui merupakan struktur bangunan candi yang di perkirakan dibangun pada abad ke 10.

Hanya saja diameter pondasi batu bata merah yang ada di Pucangan jauh lebih luas jika dibandingkan dengan yang ada di Giriroto.

Oleh karena itu jika benar, maka bisa jadi komplek makam tempat di temukanya yoni adalah bekas bangunan candi persembahyangan Hindu kuna yang sudah ambruk.

Luas perkiraan struktur bangunan candi di mungkinan jauh lebih besar jika di bandingkan dengan yang ada di Giriroto.

Hal tersebut terlihat dari besarnya punthuk komplek makam yang luasnya lebih dari lima ribu meter persegi.

Hanya saja untuk memastikan kebenaran adanya bekas bangunan candi, maka harus di lakukan penelitian lebih lanjut dari dinas terkait.

Batu Yoni dianggap sebagai lambang kesuburan. Yoni dalam bahasa sanksekerta memiliki arti tempat ( kandungan ) untuk melahirkan.

Oleh karena itu Yoni bisa di simbolkan sebagai tempat asal usul, bisa juga diartikan sebagai simbol perempuan. / Jk

Please follow and like us:

    


123

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*